Keluarga ‘Masjid’ + Orangtua ‘Sadar’ = Ketahanan Keluarga

Seputar news/
Kab. Indramayu – Lagi, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat Netty Heryawan, mengungkap tipsnya membangun ketahanan keluarga. Kali ini, Netty membagikan rumus sukses membentuk ketahanan keluarga, yakni melalui menjadikan keluarga bertipe masjid ditambah dengan pilihan menjadi orangtua yang sadar.
Netty menyebutkan, ada tiga jenis orang tua, yaitu orangtua nyasar, orangtua bayar, dan orangtua sadar. Orangtua nyasar tidak memiliki kemauan untuk belajar dan menyesuaikan sikap dengan pola pikir anak, sehingga mereka cenderung kurang berpengetahuan tentang pengasuhan yang baik dan benar. Sedangkan orangtua bayar lebih condong mengandalkan pihak ketiga untuk membentuk karakter anak, tanpa melibatkan dirinya sendiri. Akibatnya, mereka akan menyalahkan pihak ketiga tersebut bila terjadi penyimpangan pada anaknya, karena merasa sudah merogoh kocek pada pihak ketiga.
Untuk itu, kata Netty, masyarakat perlu mulai merubah sikap menjadi orangtua sadar, dimana mereka mau belajar, mau mendengar, dan mau berusaha melibatkan diri dalam membentuk karakter anaknya. Orangtua sadar senantiasa mendampingi tumbuh kembang anak, serta melindungi mereka dari ancaman kekerasan dan dampak negatif kemajuan teknologi. Orangtua sadar inilah yang menurut Netty mampu mewujudkan ketahanan keluarga.
 “Saya ngaku, saya juga masih termasuk orangtua bayar. Tapi masalah pembentukan karakter dan moral anak, saya selalu terlibat,” pungkas Netty saat memberikan ceramah dengan tema “Keluarga Bertaqwa, Keluarga Bahagia. Mendidik Generasi Zaman Now Yang Hebat dan Bermartabat”, di Gedung PUI Jl. Siliwangi Jatibarang Kabupaten Indramayu, Rabu (14/03/2018) sore.
 Lebih lanjut Netty menjelaskan, guna membangun ketahanan keluarga, pilihan menjadi orangtua sadar harus didukung dengan pembentukan keluarga bertipe masjid. Keluarga yang bertipe masjid memiliki kesamaan langkah dan visi di dalamnya. Seluruh anggota keluarga selalu seiring, sejalan, dan senantiasa mengikuti peraturan yang ada tanpa paksaan. Namun, membentuk keluarga bertipe masjid pun mesti memenuhi tiga syarat, yakni memiliki persiapan pengetahuan, berkomunikasi secara lancar di rumah, serta selalu mendoakan anak-anak kita.
“Mau bikin keluarga tipe masjid itu ada syaratnya. Pertama harus punya ilmu dan pengetahuan tentang pola pengasuhan yang benar dan tepat. Kedua, komunikasinya lancar dengan semua anggota rumah, jangan pakai teknologi jadi jarang berinteraksi,” papar Netty.
  
“Nah, yang terakhir selalu tutup dengan do’a. Jangan lupa doakan anak-anak kita agar menjadi anak berbakti dan dilindungi dari bahaya. Doa orangtua kan paling ampuh untuk anak,” sambungnya.
  
Netty ingatkan, jangan sampai masyarakat membentuk keluarganya seperti pasar apalagi kuburan. Keluarga tipe pasar memang ramai, namun semuanya berdasarkan untung rugi, tidak ada kesepakatan bersama yang teratur. Sedangkan keluarga tipe kuburan menggambarkan tidak adanya interaksi antar anggota keluarga. Semua sibuk masing-masing, sehingga tidak ada awareness dan keinginan untuk saling melindungi satu sama lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *